Showing posts with label technology. Show all posts
Showing posts with label technology. Show all posts

Sunday, 20 July 2008

Info Artikel 4

Orang yang mengalami kebutaan pada matanya, ketika akan menggunakan computer pada umumnya dibantu dengan software screen-reader. Namun untuk membeli software screen-reader biayanya cukup mahal, sekitar lebih dari USD 1.000, sehingga terkadang mereka tidak bisa duduk seperti orang biasa di perpustakaan atau di warung Internet (warnet). Kini, sebuah program dengan dasar Web terbaru akan membantu para orang buta untuk mengubah situasi tersebut.

Program yang ada di web tersebut bernama WebAnywhere. WebAnywhere dikembangkan oleh mahasiswa lulusan ilmu computer dari University of Washington, Jeffrey Bigham. Tidak seperti software lain yang harus diinstal di PC, WebAnywhere adalah sebuah aplikasi Internet yang dapat membuat Web dapat diakses oleh orang yang buta.
Bigham berharap bahwa orang yang buta akan dapat mengecek waktu keberangkatan pesawat di computer Airport, merencanakan naik bis dengan rute yang diinginkan melalui computer di perpusatakaan, atau mengetik email dengan cepat lewat Internet. Untuk mendapatkan WebAnywhere, orang yang buta harus mengaturnya untuk online, yang mugkin akan bertabrakan dengan computer yang tidak siap untuk memberikan feedback verbal kembali. Namun, Bigham menemukan dalam penelitiannya, bahwa WebAnywhere, yang khusus digunakan oleh orang buta tersebut, akan tahu trik keyboard dan kapan harus bertanya untuk bantuan.

Sekali WebAnywhere online lewat Internet, orang yang buta dapat surfing menggunakan browser WebAnywhere, yang dapat dihubungkan ke halaman web dan kemudian menyuarakan isi artikel dalam halaman tersebut dengan keras, selama computer memiliki speaker atau headphone. Program WebAnywhere juga dapat melompati bagian judul, tab, chart atau membaca halaman dari atas hingga ke bawah.

Lindsay Yazzolino, mahasiswi buta berusia 19 tahun dari Universitas Brown, yang bekerja part time di University of Washington, mengungkapkan bahwa WebAnywhere merupakan improvisasi besar dari total kekurangan akses public selama ini. Yazzolino, sangat senang dengan fitur yang dimiliki WebAnywhere dan beberapa keystroke navigasi halaman di dalamnya, terutama karena program WebAnywhere tersebut gratis digunakan.

Bigham mengharapkan orang lain dapat membuat improvisasi dengan program WebAnywhere, dengan membuatnya sebagai open source yang akan mengundang orang-orang yang suka bermain-main dengan kode dan terbuka untuk programmer dari mana saja. Richard Ladner, professor di fakultas ilmu computer University of Washington, menginginkan ada search engine komersial yang mau mengadopsi modul WebAnywhere, dan suatu saat nanti Ladner berharap, orang buta juga dapat mendisain halaman web mereka sendiri.

Source:http://www.beritanet.com/Hardware/Software/WebAnywhere-Blind-People.html

Info Artikel 3


Salah satu perusahaan di Jerman yang khawatir akan bahaya mobile phone dan menara transmisinya dapat membahayakan kesehatan manusia dan hewan, kini dapat bernafas lega dengan adanya penelitian yang dikoordinasi oleh Federal Office for Radiation Protection (BfS), Berlin. Sigmar Gabriel, Perdana Menteri Lingkungan Jerman, mengungkapkan lebih dari 50 penelitian dalam DMF (German Mobile Telecommunications Research Programme), dari tahun 2002 hingga 2008, tidak menemukan bukti bahwa mobile phone dan menara transmisinya dapat menimbulkan resiko kesehatan dalam jarak radiasi elektromagnetik. Program penelitian yang menghabiskan biaya sekitar USD 26 juta, difokuskan pada fungsi mekanis dari gelombang electromagnetic frekuensi tinggi dalam handphone atau ponsel, yang dapat berakibat buruk pada manusia dan hewan, dan jumlah radiasi elektromagnetik yang dihasilkan. Beberapa penelitian menamakannya blood-brain barrier, sebuah filter yang dapat mencegah substansi tertentu yang berbahaya dalam darah dari neuron terdekat dalam otak. Dalam penelitian juga ditemukan sekitar 1,5% orang yang menamakan dirinya “electrosensitive” dan lalu mereka menyalahkan radiasi electromagnetic yang telah menyebabkan gangguan kesehatan. Para peneliti mengungkapkan bahwa mereka memang memiliki gangguan kesehatan seperti sakit kepala, dan susah tidur, yang dapat disebabkan oleh berbgai hal, namun sepertinya tidak ada hubungannya dengan radiasi elektromagnetik. Para peneliti juga menegaskan, tidak ada bukti bahwa electromagnetic dapat menyebabkan masalah kesehatan, yang dinamakan electrosensitve. Oleh karena itu, BfS juga akan melakukan banyak penelitian untuk penggunaan ponsel dalam jangka waktu yang lama, dan akibatnya pada anak-anak dan remaja. Kemudian para peneliti memberikan saran kepada masyarakat untuk menggunakan mobile phone tidak terlalu sering, dan membeli model yang memiliki radiasi rendah, dan memastikan kondisi handphone saat diterima dalam keadaan yang baik. Source:http://www.beritanet.com/Technology/Communication/germany-mobile-phone-radiation.html

info Artikel 2


GSM VS CDMA

Dalam layanan seluler terdapat beberapa teknologi jaringan komunikasi data, seperti Global System for Mobile Communications (GSM) dan Code Division Multiple Access (CDMA). GSM Association adalah organisasi internasional yang didirikan tahun 1987, digunakan untuk penyediaan, pengembangan dan penampilan standard wireless dunia. Sedangkan CDMA adalah standard wireless yang didesain oleh Qualcomm di U.S, yang menjadi standard jaringan yang mendominasi Amerika Utara dan negara-negara Asia.

Cakupan jaringan. Hal ini bergantung pada ponsel yang digunakan. Dalam suatu area tertentu, mungkin hanya GSM yang berfungsi, atau CDMA saja yang berfungsi, atau keduanya.

Kecepatan transfer data. CDMA pada umumnya memiliki kecepatan transfer data yang lebih cepat daripada GSM, bukan hanya untuk panggilan telepon, tetapi terutama untuk streaming video, dan email. Keduanya juga mampu mendukung teknologi 3G.

Subscriber Identity Module (SIM) card. Dalam penggunaan ponsel GSM, menggunakan SIM card, yang secara instant dapat diaktifkan, ditukar, diganti, dan diupgrade, semua tanpa terjadi intervensi dengan ponsel. Sedangkan CDMA menggunakan R-UIM card, yang memerlukan satu ponsel yang terhubung dengan jaringan R-UIM (Removable User Identity Module) card.

Roaming. GSM memiliki kontrak roaming dengan GSM lain, dan menyediakan area yang luas hingga ke pedalaman, seringkali tidak memakai biaya roaming kepada pelanggan. Untuk jaringan CDMA tidak meng-cover hingga daerah pedalaman sebaik GSM dan CDMA memiliki kontrak dengan GSM untuk roaming di daerah pedalaman atau terpencil, dengan biaya yang dilimpahkan kepada pelanggan dengan angka yang tinggi.

Roaming Internasional. Jika pelanggan ingin melakukan panggilan ke luar negeri, GSM dapat menyediakan roaming internasional, karena pasar jaringan GSM masih mendominasi pasar dunia ponsel. Jika pelanggan traveling ke negara lain, mereka dapat menggunakan ponsel GSM yang menyediakan jaringan quad-band yakni untuk 850/900/1800/1900 MHz. Dengan membeli SIM card dan nomor local dari negara yang dikunjungi, pelanggan dapat membuat panggilan dari SIM card baru untuk menghemat biaya roaming internasional dari SIM card sebelumnya. Sedangkan untuk CDMA tidak memiliki kemampuan tersebut, walaupun banyak negara telah menggunakan jaringan CDMA. Untuk itu, pelanggan harus mengecek penyedia layanan CDMA untuk negara yang dikunjungi.

Berdasarkan CDG.org, salah satu layanan GSM di USA dipegang oleh provider Cingular Wireless yang telah merger dengan AT&T Wireless, dan T-Mobile USA. Sedangkan CDMA dipegang oleh beberapa provider seperti Sprint PCS, Verizon dan Virgin Mobile.

Source:http://www.beritanet.com/Technology/Communication/Handphone-Technology-GSM-CDMA.html

Info Artikel 1

Website dengan Web Page. Sebuah personal web mengungkapkan apa yang dibaca, dipikirkan, ide, hobi, keluarga, teman, perasaan, atau sesuatu yang sangat disukai atau dibenci oleh user. Personal web juga memiliki banyak halaman web yang berbeda sehingga akan melengkapi website user dan dapat mengungkapkan banyak hal mengenai pemilik website.

Blog atau Weblog. Situs ini merupakan nama lain dari sebuah diary online, tetapi blog lebih dari itu. Online diary sudah lama beredar di Internet seperti World Wide Web, namun blogBlog masih bias digunakan sebagai diary online personal, namun biasanya lebih digunakan untuk diskusi soal berita terbaru, olahraga, dan hal-hal lain yang menarik untuk dibicarakan. Perusahaan online menggunakan blog sebagai tool untuk berbicara mengenai bisnis perusahaan yang berbeda. User dapat membuat blog sebagai website personal untuk mendiskusikan hal yang menarik atau hobi, atau bahkan tentang masalah kehidupan pada umumnya. lebih baru daripada WWW.

Social Networking (Jaringan Sosial). Situs ini berguna jika user ingin bertemu dengan orang lain dalam kondisi online dan kemudian membuat website personal dalam waktu yang bersamaan. Situs seperti MySpace memberikan user halaman intro ketika user memberitahu mengenai keberadaannya dan menambah foto kepada orang lain. MySpace juga dapat berfungsi sebagai blog di mana user dapat mendiskusikan hal apapun, lebih dari berbagi foto, dan sebuah jalan untuk bertemu orang lain dalam situs tersebut.

Wiki. Situs ini adalah website personal di mana user dapat membuat dan membiarkan orang lain membantu user tentang apa yang sedang dibangun di dalamnya. Data dalam situs Wiki dapat berisi apa saja, dapat diedit atau ditambah, atau user dapat membuatnya private hanya dapat ditambah atau diedit khusus untuk orang-orang yang menjadi pilihan.

Online Photo Album. Situs ini merupakan tempat di mana user dapat meletakkan seluruh foto digital secara online dan sharing dengan teman atau keluarga. Jika foto user tidak digital, user dapat men-scannya, kemudian meng-uploadnya ke album foto online ini.

S
ource: http://www.beritanet.com/Technology/Web-Development/Making-Variant-Personal-Website.html

Info Buku 1

Aplikasi multimedia pada Pc saat ini sangat umum digunakan. Beragam program dibuat untuk platform Windows yang mudah dipahami oleh user awam sekalipun. Sebagai contoh, untuk pengolahan image foto, PC mampu menangani secara profesional mulai dari proses scaning sampai dengan teknik editing foto dan berakhir pada pencetakan.

Didunia editing audio dan video, banyak program yang dapat digunakan user untuk pengolahan media visual tersebut. Diantaranya Adobe Premier, Ulead Media Studio, Pinnacle Studio dan Pinnacle Edition yang dirancang untuk prefesional; sedangkan untuk tingkat hobbies atau user dengan proses editing yang tidak terlalu rumit, terdapat beberapa program seperti MGI VideoWave, Intervideo WinProcedure, Ulead Video Studio, dan beberapa lagi yang telah didukung proses authoring SVCD maupun DVD.

Salah satu aplikasi yang telah mendukung format DVD adalah ulead Video Studio 7. Program ini memiliki interface yang sederhana tetapi mampu memberikan kekuatan pada hasil akhir file video yang dihasilkan. Selain itu, output yang dihasilkan dapat berupa image yang disimpan pada hardisk maupun secara langsung ditulis pada CD-RW atau DVD-RW.

Ulead Video Studio 7 merupakan pilihan yang tepat bagi user yang bermaksud mengolah video menggunakan PC. Selain kesederhanaan antarmuka dan kemudahan memahami perintah yang harus dijalankan, Ulead Video Studio memiliki dukungan yang luas pada beberpa format video, seperti : format Avi, DV, MPGE atau DVD.

Source:http://www.beritanet.com/Literature/Books/Mengolah-Video-Menggunakan-Ulead-Video-Studio-7.html

Friday, 18 July 2008

THEORY 4

SIKLUS HIDUP SISTEM (SYSTEMS LIFE CYCLE)

General Systems Life Cycle (GSLC)

Merupakan fase-fase utama (general) yang terjadi pada semua sistem, baik sistem biologis, fisikal, sosial ataupun sistem lainnya. Adapun fase-fase 
tersebut terbagi dalam empat fase, yaitu :
a. Development (introduction)
b. Growth
c. Maturity
d. Deterioration (decline)

Information Systems
Life Cycle (ISLC)
Merupakan fase-fase utama (general) yang terjadi pada sistem informasi. Adapun fase-fase tersebut terbagi dalam empat fase, yaitu :
a. Systems Development (Design)
b. Systems Implementation
c. Systems Operation (Maintenance)
d. Systems Obsolescence

Systems
Development Life Cycle (SDLC)
SDLC berfungsi untuk menggambarkan tahapan-tahapan utama dan langkah-langkah  dari setiap tahapan yang secara
garis besar terbagi dalam tiga kegiatan utama, yaitu :
a. Analysis
b. Design
c. Implementation
Setiap kegiatan dalam SDLC dapat dijelaskan melalui tujuan (purpose) dan hasil kegiatannya (deliverable).

ANALYSIS
Dalam tahap analisis ini, digunakan oleh analis sistem untuk :
a. Membuat keputusan apabila sistem saat ini mempunyai masalah atau sudah 
tidak berfungsi secara baik dan hasil analisisnya digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki sistem
b. Mengetahui ruang lingkup pekerjaannya yang akan ditanganinya.  
c. Memahami sistem yang sedang berjalan saat ini
d. Mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya
 
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap analisis ini adalah :
1. Problem detection
a. Tujuan   :  Mendeteksi sistem, apabila sistem saat ini semakin berkurang manfaatnya (memburuk).
b. Hasil    :  Laporan pendahuluan tentang permasalahan yang terjadi dalam sistem.
2. Initial investigation
a. Tujuan   :  Memerikan sistem saat ini dengan penekanan pada daerah-daerah yang menimbulkan permasalahan.
b. Hasil    :  Penjelasan sistem saat ini. 
3. Requirement analysis (determination of ideal systems)
a. Tujuan   :  Mendapatkan konsensus dari komunitas pemakai dari sistem informasi yang ideal.
Sebuah penggantian sistem akan menimbulkan jarak antara sistem saat ini dengan sistem
yang ideal (yang mengacu ke komputerisasi).
b. Hasil    :  Penjelasan kebutuhan analisis terhadap sistem.

4. Generation of system alternatives
a. Tujuan   :  Menggali (explore) perbedaan dari alternatif sistem dalam 
mengurangi jarak (gap) antara sistem saat ini dengan sistem idealnya.
b. Hasil    :  Dokumen-dokumen tentang alternatif sistem yang akan
digunakan untuk memperbaiki sistem.
5. Selection of proper system
a. Tujuan      :  Membandingkan alternatif-alernatif sistem dengan menggunakan metodologi
terstruktur, memilih alternatif sistem yang paling baik, dan menjualnya (sell)
kepada management.
b. Hasil       :  Hasil-hasil dari studi sistem.
DESIGN
Dalam tahap perancangan (design) memiliki tujuan, yaitu untuk :
a. Mendesain sistem baru yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi perusahaan
yang diperoleh dari pemilihan alternatif sistem yang terbaik.
 Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perancangan ini adalah :
6. Output design

a. Tujuan : Memerikan bentuk-bentuk laporan sistem dan dokumennya.
b. Hasil    :  Bentuk (forms) dari dokumentasi keluaran (output).
7. Input design
a. Tujuan   :  Memerikan bentuk-bentuk masukan didokumen dan dilayar ke sistem informasi.
b. Hasil    :  Bentuk (forms) dari dokumentasi masukan (input).
8. File design
a. Tujuan   :  Memerikan bentuk-bentuk file-file yang dibutuhkan dalam  sistem informasi.
b. Hasil    :  Bentuk (forms) dari dokumentasi file.
IMPLEMENTATION 
Dalam tahap implementasi memiliki beberapa tujuan, yaitu untuk :
a. Melakukan kegiatan spesifikasi rancangan logikal ke dalam kegiatan yang sebenarnya dari sistem informasi
yang akan dibangunnya atau dikembangkannya.
b. Mengimplementasikan sistem yang baru.
c. Menjamin bahwa sistem yang baru dapat berjalan secara optimal.

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap implementasi ini adalah :

9. Programming & testing
a. Tujuan   : Mengkonversikan perancangan logikal ke dalam kegiatan operasi coding
dengan menggunakan bahasa pemograman tertentu, dan mengetest
semua program serta memastikan semua fungsi / modul program
dapat berjalan secara benar.
b. Hasil    : Coding program dan spesifikasi program.
10.Training
a. Tujuan   : Memimpin (conduct) pelatihan dalam menggunakan sistem,persiapan lokasi latihan
dan tugas-tugas lain yang berhubungan denganp pelatihan (buku-buku panduan sistem).
b. Hasil    : Rencana pelatihan sistem, modul-modul katihan dan sebagainya.
11. System changeover
a. Tujuan  : Merubah pemakaian sistem lama ke sistem baru dari sistem informasi yang berhasil dibangun.
Perubahan sistem merupakan tanggungjawab team designer ke pemakai sistem (user organization).
b. Hasil   :  Rencana (jadwal dan metode) perubahan sistem (contract).
 
 

THEORY 3

DATABASE

I. HIRARKI DATA

File yaitu kumpulan catatan data yang berhubungan dengan subyek tertentu.
Catatan adalah elemen data yang berhubungan dengan obyek tertentu.
Elemen data yaitu unit data terkecil yang tidak dapat dibagi lagi menjadi unit yang berarti. Manajemen data adalah bagian dari manajemen sumber daya informasi yang mencakup semua kegiatan yang memastikan bahwa sumber daya data perusahaan akurat , mutakhir , aman dari gangguan yang tersedia bagi pemakai.Kegiatan manajemen data mencakup :
Pengumpulan data
Integritas pengujian
Penyimpanan
Keamanan
Pemeliharaan
Organisasi
Pengambilan

II. PENYIMPANAN SEKUNDER

1. Penyimpanan Berurutan (Sequential Access Storage Device): Suatu organisasi / penyusunan data di suatu medium penyimpanan yang terdiri dari suatu catatan mengikuti satu catatan lain dalam suatu urutan tertentu . Contoh pita magnetik yg digunakan untuk menyimpan data komputer memiliki bentuk fisik yg sama dengan pita audio.

2. Penyimpanan Akses Langsung (Direct Access Storage Device): Cara mengorganisasikan data yang ditulis dan dibaca tanpa pencarian secara berurutan.DASD dapat diarahkan ke lokasi manapun dalam medium penyimpanan dan digunakan sebagai media input.

III. PEMROSESAN DATA

1. Pemrosesan Batch: Pengumpulan transaksi dan pemrosesan semua sekaligus dalam batch.Kelemahan dari pemrosesan ini manajemen tidak selalu memiliki informasi mutakhir yg menggambarkan sistem fisik.

2. Pemrosesan On-Line: Pengolahan transaksi satu per satu, kadang saat terjadinya transaksi, karena pengolahan on-line berorientasi transaksi.

3. Sistem Real Time: Sistem yang mengendalikan sistem fisik, dimana sistem ini mengharuskan komputer berespon cepat pada sistem fisik.

IV. DATABASE

1. Era permulaan database ditandai dengan : Pengulangan data, Ketergatungan data, Kepemilikan data yang tersebar

2. Konsep Database: Yaitu integrasi logis dari catatan-catatan file.Tujuan dari konsep database adalah meminimumkan pengulangan dan mencapai independensi data. Independensi data adalah kemampuaan untuk membuat perubahan dalam struktur data tanpa membuat perubahan pada program yang memproses data. Independensi data dicapai dgn menempatkan spesifikasi dalam tabel & kamus yg terpisah secara fisik dari program.Program mengacu pada tabel untuk mengakses data.

3. Saat mengadopsi konsep database, Struktur Database menjadi :
Database
File
Catatan
Elemen data

4. Keuntungan DBMS
Mengurangi pengulangan data.
Mencapai independensi data Spesifikasi data disimpan dalam tiap program aplikasi.
Perubahan dapat dibuat pada struktur data tanpa mempengaruhi program yang mengakses data.
Mengintegrasikan data dari beberapa file. Saat file dibentuk sehingga menyediakan kaitan logis organisasi fisik tidak lagi menjadi kendala.
Mengambil data dan informasi secara cepat. Hubungan logis query language memungkinkan pemakai mengambil data dalam hitungan detik atau menit.
Meningkatkan keamanan.
Baik DBMS mainframe maupun komputer mikro dapat menyertakan beberapa lapis keamanan seperti kata sandi,directori pemakai, dan bahasa sandi.

5. Kerugian DBMS
Memperoleh perangkat lunak yang mahal.
Memperoleh konfigurasi perangkat keras yang besar.
Memperkerjakan dan mempertahankan staf DBA.

V. PERANAN DATABASE & DBMS DALAM MEMECAHKAN MASALAH

Peranan DATABASE :
Menentukan kebutuhan data dengan mengikuti pendekatan berorientasi masalah atau pendekatan model perusahaan.

Peranan DBMS :
Data yang berulang dalam bentuk multifile duplikat maupun data duplikat dalam satu file.
Data dan program menyatu.
Kebutuhan untuk mengintegrasikan data dari file-file.
Kebutuhan untuk memperoleh data secara cepat.
Kebutuhan untuk membuat data dengan aman.

THEORY 2

COBIT
(Control Objectives for Information and Related Technology)

Pengertian
Cobit Adalah satu metodologi yang memberikan kerangka dasar dalam menciptakan sebuah Teknologi Informasi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dengan tetap memperhatikan faktor – faktor lain yang berpengaruh. Cobit Adalah suatu panduan standar praktik manajemen teknologi informasi.Standar COBIT dikeluarkan oleh IT Governance Institute yang merupakan bagian dari ISACA (Information Systems Audit and Control Association).

Sejarah Cobit
Cobit diciptakan untuk menyediakan model yang detail dan spesifik untuk IT governance. Berisi standar dan regulasi ISO, EDIFACT, dan lain-lain.Codes of Conduct issued by Council of Europe.Stándar Profesional Auditing, yaitu : COSO, IFAC, IIA, ISACA, AICPA standards, dll. Pertama kali dipubliksikam pada bulan April 1996, edisi kedua terbit pada tahun 1998,edisi ketiga pada July 2000, edisi keempat pada bulan Desember 2005

Dasar-dasar Cobit
Digunakan untuk membantu untuk memahami dan mengatur resiko dengan bantuan antara tekhnologi dan informasi,memungkinkan pengembangan dari kebijaksanaan yang bersih dan praktek yang baik untuk kontrol TI,dan Cobit dapat digunakan oleh: Ahli Tekhnologi informasi dan penggunanya, untuk mendukung proses bisnis bagi para pemilik perusahaan dan Auditors

Pentingnya Cobit
Pada dasarnya COBIT dikembangkan untuk membantu memenuhi berbagai kebutuhan manajemen terhadap informasi dengan menjembatani kesenjangan antara resiko bisnis, kontrol dan masalah teknik. COBIT dapat menyediakan seperangkat praktek yang dapat diterima pada umumnya karena dapat membantu para direktur, eksekutif dan manager meningkatkan nilai IT dan mengecilkan resiko.Untuk menpersiapkan proses manajemen dan bisnis dengan model TI governance yang membantu dalam memahami dan memgelola resiko yang berhubungan dengan TI

Cakupan Bidang/Domain Utama CObIT
Perencanaan dan organisasi (plan and organise)
Pengadaan dan implementasi (acquire and implement)
Pengantaran dan dukungan (deliver and support)
Pengawasan dan evaluasi (monitor and evaluate)

Domain 1 : Planning and Organisation
Domain ini mencakup strategi dan taktik yang menyangkut identifikasi tentang bagaimana TI dapat memberikan kontribusi terbaik dalam pencapaian tujuan bisnis organisasi sehingga terbentuk sebuah organisasi yang baik dengan infrastruktur teknologi yang baik pula.

Langkah-langkah:
Menetapkan rencana stratejik TI
Menetapkan hubungan dan organisasi TI
Mengkomunikasikan arah dan tujuan manajemen
Mengelola sumberdaya manusia
Memastikan pemenuhan keperluan pihak eksternal
Menaksir risiko

Domain 2 : Acquisition and Implementation
Untuk mewujudkan strategi TI, solusi TI perlu diidentifikasi, dibangun atau diperoleh dan kemudian diimplementasikan dan diintegrasikan dalam proses bisnis.
Langkah-langkah :
Mengidentifikasi solusi terotomatisasi
Mendapatkan dan memelihara infrastruktur teknologi
Mengembangkan dan memelihara prosedur
Memasang dan mengakui sistem
Mengelola perubahan

Domain 3 : Delivery and Support
Domain ini berhubungan dengan penyampaian layanan yang diinginkan, yang terdiri dari operasi pada security dan aspek kesinambungan bisnis sampai dengan pengadaan training.
Langkah-langkah :
Menetapkan dan mengelola tingkat pelayanan
Mengelola pelayanan kepada pihak lain
Memastikan pelayanan yang kontinyu
Memastikan keamanan sistem
Mengelola konfigurasi/susunan
Mengelola data
Mengelola fasilitas

Domain 4 : Monitoring
Semua proses TI perlu dinilai secara teratur dan berkala bagaimana kualitas dan kesesuaiannya dengan kebutuhan kontrol.
Langkah-langkah:
Memonitor proses – menaksir kecukupan pengendalian internal
Mendapatkan kepastian yang independen

Kesimpulan
COBIT adalah fondasi yang berguna untuk membangun suatu lingkungan pengendalian yang berbasis TI
Cakupannya luas, cukup fleksibel bila berintegrasi dengan lingkungan pengendalian bisnis, databasenya dapat dibagi, dan prosedurnya manual
Sangat mungkin untuk membangun complete toolkit untuk mengimplementasikan lingkungan pengendalian berbasis TI

Tuesday, 15 July 2008

THEORY 1

The Advantages and Disadvantages of ERP

There are a number of powerful advantages to Enterprise Resource Planning. It has been used to solve a number of problems that have plagued large organizations in the past. At the same time, it is not without a number of disadvantages. Being able to weigh the two will allow a company to decide if this solution will properly meet their needs. It should first be noted that companies that fail to utilize systems such as ERP may find themselves using various software packages that may not function well with each other. In the long run, this could make the company less efficient than it should be.There are a number of processes that a company may need to integrate together. One of these processes is called design engineering. When a company is in the process of designing a product, the process of actually creating it is just as important as the end result. ERP can be useful in helping a company find the best design process. Another area where ERP can be useful is order tracking. When a company receives orders for a product, being able to properly track the orders can allow the company to get detailed information on their customers and marketing strategies. If different software packages are being used, this data may not be consistent.

Perhaps one of the most important advantages of ERP is its accounting applications. It can integrate the cost, profit, and revenue information of sales that are made, and it can be presented in a granular way. Enterprise Resource Planning can also be responsible for altering how a product is manufactured. A dating structure can be set up which can allow the company to be informed of when their product should be updated. This is important, because it will allow the company to keep better track of their products, and it can allow the products themselves to be produced with a higher level of quality. Another area where ERP can be an indispensable tool is the area of security. It can protect a company against crimes such as embezzlement or industrial espionage.However, with all the advantages that ERP offers, there are a number of disadvantages as well. Perhaps one of the biggest disadvantages to this technology is the cost. At this time, only large corporations can truly take advantage of the benefits that are offered by this technology. This leaves most small and medium sized businesses in the dark. A number of studies have shown that the biggest challenges companies will face when trying to implement ERP deals with investment. The employees must be continually trained on how to use it, and it is also important for companies to make sure the integrity of the data is protected.

ERP has a number of limitations. The success of the system is fully dependent on how the workers utilize it. This means they must be properly trained, and a number of companies have attempted to save money by reducing the cost of training. Even if a company has enough money to implement ERP, they may not be able to successfully use it if they do not have enough money to train their workers on the process of using it. One of the biggest problems with ERP is that it is hard to customize. Very few companies can effectively use ERP right out of the box. It must be modified to suit their needs, and this process can be both expensive and tedious. Even when a company does begin changing the system, they are limited in what they can do.



Most ERP vendors will not allow the structure of the software to be altered. One advantage to ERP is that making the necessary changes to use it may actually make a company less competitive in the market. In addition to the costs involved with implemented ERP and training workers to use it, the ERP vendors may charge additional license fees, putting a strain on companies that do not have enough resources to pay for them. The technical support of ERP departments has been questioned, and a number of problems could arise due to security, since corporate representatives must give sensitive information to the tech support department.


Source:
http://erp-guide.blogspot.com/2008/01/advantages-and-disadvantages-of-erp.html

JURNAL 2

MENGAPA TI BUKAN MASALAH LAGI

Oleh Nicholas G. Carr

Pada tahun 1968, seorang insinyur muda Intel, Ted Hoff, menemukan cara meletakkan sirkuit yang digunakan dalam prosesor komputer ke dalam sepotong kecil silikon. Penemuan microprosessornya ini mendorong serangkaian penemuan teknologi -komputer dekstop, jaringan lokal dan wide area, perangkat lunak perusahaan, dan internet- yang telah merubah dunia usaha. Saat ini, tidak seorangpun membantah bahwa TI telah menjadi tulang punggung perdagangan. Hal ini menjadi dasar operasi masing-masing perusahaan, merangkai pipa supply chain, dan meningkatkan link usaha ke pelangan yang dilayaninya. Perubahan dolar dan euro yang tajam tak akan berarti tanpa bantuan sistem komputer.

Bersamaan dengan meluasnya kekuatan dan kehadiran IT, perusahaan melihat hal ini sebagai sumber daya yang penting bagi kesuksesannya, fakta ini tercermin dalam kebiasaan belanja perusahaan. Pada tahun, 1965, berdasarkan studi Departemen Analisa Ekonomi Biro Perdagangan Amerika, kurang dari 5% pembelanjaan modal perusahaan di Amerika dibelanjakan dalam tekhnologi informasi. Setelah pengenalan PC di tahun 1980an, persentase belanja meningkat menjadi 15%. Pada tahun 1990an, pembelanjaan tersebut mencapai lebih dari 30%, dan pada akhir dekade tersebut pembelanjaan tersebut hampir mendekati 50%. Bahkan dengan sluggishness dalam pembelanjaan teknologi, bisnis di seluruh dunia tetap melakukan pengeluaran lebih dari $ 2 triliun per tahun untuk TI.

Tetapi venerasi TI berlanjut semakin dalam dari pada dollar. Hal ini dibuktikan dengan pergeseran perilaku top manajemen. Dua belas tahun lalu, sebagian besar eksekutif memandang rendah komputer sebagai alat bantu kaum proletar -mesin ketik dan kalkulator yang mahal- yang paling cocok digunakan oleh pegawai rendahan seperti sekretaris, analis dan teknisi. Dahulu sangat jarang seorang eksekutif bersedia mengijinkan jari-jarinya menyentuh keyboard, hanya sedikit teknologi informasi digunakan dalam pemikiran strategisnya. Saat ini, hal itu telah berubah total. Para Eksekutif puncak saat ini secara rutin membicarakan mengenai nilai strategis teknologi informasi, berkaitan mengenai bagaimana mereka dapat menggunakan TI untuk memperoleh keuntungan bersaing, berbicara mengenai digitalisasi model bisnis mereka. Sebagian besar telah menunjuk seoarang kepala bagian informasi (chief information officers) dalam tim senior manajemennya, dan sebagian besar juga telah mempekerjakan firma konsultasi strategi untuk menyediakan gagasan-gagasan segar berkenaan dengan bagaimana cara untuk meleverage investasi TI untuk diferensiasi dan keuntungan.

Dibalik perubahan dalam pemikiran tersebut terdapat asumsi sederhana, yaitu: potensi TI dan ubiguitas yang telah meningkat, begitu juga dengan nilai strategisnya. Hal tersebut merupakan asumsi yang masuk akal, bahkan intuitiv sekalipun. Tetapi hal tersebut telah disalahartikan. Apa yang menjadikan suatu sumber daya bernilai strategis –apa yang menjadikan hal tersebut berkapasitas untuk dijadikan sebagai dasar keuntungan kompetisi yang berlanjut- bukan lah ubiguitasnya tetapi adalah kelangkaannya. Anda hanya akan mendapatkan keuntungan atas pesaing anda dengan mempunyai atau melakukan sesuatu yang pesaing anda tidak miliki atau lakukan. Pada saat ini, fungsi dasar TI –penyimpanan data, pemrosesan data, dan pengiriman data- telah tersedia dan affordable bagi semua orang.

Kekuatan dan presence utamanya telah dimulai dengan merubahnya dari sumber daya strategis potensial menjadi faktor komoditas produksi. Meretia telah menjadi pengorbanan dalam melakukan bisnis yang harus dibayar oleh semua pihak tetapi tidak memberi jarak bagi siapapun.

TI dapat dipandang sebagai serial teknologi mutakhir yang diadopsi secara luas yang telah membentuk kembali industri dalam kurun waktu dua abad terakhir –berawal dari mesin uap dan rail kereta api ke telegraph dan telepon hingga generator listrik dan mesin konstribusi internal. Secara ringkas, dengannya telah dibangun infrastruktur perdagangan, semua teknologi ini telah membuka kesempatan untuk masa depan- menunjukkan perusahaan untuk memperoleh manfaat nyata. Tetapi sejalan dengan peningkatan ketersediaan dan penurunan biayanya –seiring meretia menjadi ubiguitas- meretia menjadi komoditas input. Berawal dari tujuan strategis, meretia menjadi maya; meretia tidak lagi berarti. Hal ini lah yang sebenarnya terjadi pada TI saat ini, dan implikasi bagi manajemen TI perusahaan profound.

Dari menyerang ke bertahan

Dari sudut pandang praktis, pelajaran yang paling berharga yang harus dipelajari dari teknologi infrastruktur terdahulu adalah hal-hal sebagai berikut: ketika sumber daya menjadi lebih penting bagi kompetisi tetapi tidak berkaitan dengan strategi, resiko yang ditimbulkan hal tersebut akan akan lebih penting daripada manfaat yang disediakan. Contohnya listrik. Saat ini, tidak ada perusahaan yang membangun strategi berkenaan dengan penggunaan listrik, meskipun begitu lapse singkat dalam rantai supply dapat di divestasi (sebagaimana temuan beberapa bisnis di California, selama krisis energi pada tahun 2000). Risiko operasional terkait dengan TI sangat banyak –glithches teknikal, keusangan, jasa outages, vendor atau partner yang tidak cakap, pembobol keamanan, bahkan terorisme- dan beberapa telah menjadi magnified seiring dengan perjalanan perusahaan dari pengendalian yang lemah, sistem perorangan ke terbuka, shared one. Saat ini, kerusakan pada TI dapat melumpuhkan kemampuan perusahaan untuk membuat produk, memberikan jasa, dan berhubungan dengan pelanggannya, belum lagi merusak reputasi perusahaan. Masih sedikit perusahaan yang telah melakukan identifikasi dan menyikapi kelemahannya. Mengkhawatirkan apa yang mungkin salah mungkin bukan pekerjaan yang membangakan sebagaimana meramalkan masa depan, tetapi hal ini merupakan pekerjaan penting saat ini.

Dalam jangka panjang, melalui besarnya resiko TI yang dihadapi oleh sebagian besar perusahaan lebih menjemukan daripada bersifat musibah. Yaitu, pengeluaran yang berlebih. TI bisa menjadi komoditas, dan biayanya bisa turun dengan cukup cepat untuk memastikan bahwa kemampuan baru secara cepat tersebar, tetapi fakta terbesar adalah bahwa TI entwined dengan berbagai alat/tujuan fungsi bisnis yang akan terus mengkonsumsi porsi terbesar pembelanjaan perusahaan. Bagi sebagian besar perusahaan, hanya untuk bertahan dalam binis saja membutuhkan pengeluaran yang besar untuk TI. Yang terpenting –dan hal ini hold true setiap input komoditas- adalah kemampuan untuk memisahkan investasi penting dari yang bersifat discresi, tidak dibutuhkan atau bahkan kontra produktiv.

Pada tingkat yang tinggi, manajemen biaya yang terkuat membutuhkan rigor dalam mengevaluasi tingkat pengembalian yang diharapkan dari investasi sistem, lebih banyak kreatifitas dalam mengeksplorasi alternatif yang lebih sederhana dan lebih murah, dan lebih terbuka untuk outsourcing dan partnership lainnya. Tetapi sebagian besar perusahaan juga dapat meraup penghematan yangsignifikan hanya dengan cara memotong limbah. Komputer personal merupakan contoh yang baik. Setiap tahun, dunia usaha membeli lebih dari 100 juta PC, sebagian besar adalah mengganti model yang lebih tua. Belum lagi pekerja mayoritas vast yang menggunakan PC hanya sebatas beberapa aplilasi sederhana –pemrosesan kata, spreadsheet, e-mail, dan web browsing. Aplikasi-aplikasi ini telah menjadi teknologi yang mapan selama bertahun-tahun: meretia membutuhkan hanya beberapa fraksi kemampuan komputer yang disediakan oleh microprosesor saat ini. Meskipun begitu, perusahaan terus roll out dalam upgrade hard ware dan soft ware.

Sebagian besar dari pembelanjaan tersebut, sejujurnya dapat dikatakan, dipicu oleh strategi vendor. Suplier besar hardware dan software telah menjadi mahir dalam mengemas hardware dan software baru dengan cara tertentu sehingga mendorong perusahaan untuk membeli komputer, aplikasi dan perangkat jaringan baru lebih sering dari yang seharusnya mereka butuhkan. Saatnya telah tiba bagi pembeli TI untuk membalikkan nilai tawarnya, untuk menegosiasikan kontrak yang menjamin kegunaan jangka panjang atas investasi PC nya dan menentukan batasan yang kuat atas biaya upgrade. Dan jika vendor mengalangi, perusahaan harus mau untuk mengeksplorasi solusi yang lebih murah, termasuk aplikasi yang open source dan jaringan PC yang bare bone, meskipun hal ini berarti mengorbankan fitur. Jika perusahaan menginkan bukti mengenai jenis penghematan yang bisa diselamatkan, perusahaan hanya perlu melihat profit margin Microsoft.

Sebagai tambahan untuk lebih pasive dalam pembeliannya, perusahaan telah sloppy dalam penggunaan TI nya. Hal itu biasanya benar dalam penyimpanan data, yang mana harus memperhitungkan lebih dari setengah pengeluaran TI perusahaan. Halangan atas apa yang telah disimpan dalam jaringan perusahaan mempunyai hubungan yang sedikit dengan pembuatan produk atau pelayanan pelanggan –hal tersebut terdiri atas e-mail dan file yang disimpan oleh para pegawai, termasuk spam yang besar mencapi terabyte, MP3 dan video clip. Dunia komputer mengestimasikan bahwa sekitar 70% kapasitas penyimpanan jenis jaringan Windows adalah sampah –sebuah beban yang sangat besar yang tidak diperlukan. Membatasi kemampuan pegawai menyimpan file tanpa pandang bulu dan segera mungkin akan terlihat tidak mempunyai perasaan bagi sebagian manajer, tetapi hal ini akan memberikan akibat nyata pada bawahan. Saat ini TI telah menjadi pembelanjaan modal yang paling dominan bagi sebagian dunia usaha, tak ada alasan bagi sampah dan kecerobohan.

Setelah mengetahui kemajuan teknologi yang pesat, menunda investasi TI bisa menjadi cara yang ampuh untuk memangkas biaya –sementara juga menurunkan peluang perusahaan menjadi saddled dengan teknologi yang cepat usang. Benyak perusahaan selama tahun 1990an, terburu-buru dalam melakukan investasi TI nya karena berharap dapat menangkap keuntungan yang pertama atau karena mereka takut tertinggal. Terkecuali pada kasus-kasu tertentu yang sangat jarang, kedua hal yaitu harapan dan ketakutan tersebut tak terjamin. Pengguna teknologi yang paling pandai –dalam hal ini, keberhasilan Dell dan Wall-Mart- menunggu waktu yang tepat hingga masa penghematan, menunggu melakukan pembelian hingga standar dan praktik yang terbaik menjadi solid. Mereka membiarkan pesaing mereka yang tidak sabar menanggung biaya eksperimen yang tinggi, dan kemudian mereka membabat habis pesaingnya, dengan pembelanjaan yang sedikit dan mendapatkan manfaat yang lebih.

Beberapa manajer mungkin mencemaskan bahwa pelit dengan pengeluaran dollar untuk TI akan merusak posisi saing mereka. Tetapi sebuah studi atas pembelanjaan TI memperlihatkan bahwa pengeluaran yang lebih besar jarang diartikan sebagai hasil keuangan yang lebih baik. Kenyataannya adalah sebalinya. Pada tahun 2002, perusahaan konsultasn Alinean membandingkan pengeluaran untuk TI dan hasil keuangan untuk 7,500 perusahaan besar di Amerika dan menemukan bahwa perusahaan yang mempunyai kineja terbaik cenderung mempunyai kebijakan keuangan yang ketat. 25 perusahaan yang mendapatkan pengembalian ekonomi tertinggi, contohnya, membelanjakan secara rata-rata 0.8% dari pendapatannya pada TI, sementara perusahaan sejenisnya membelanjakan 3.7%. Studi terakhir yang dilakukan oleh Forrester Research menunjukkan hal yang sama, bahwa perusahaan yang paling boros dalam pembelanjaan TI jarang memperoleh hasil yang terbaik. Bahkan Larry Ellison dari Oracle, salah satu dari salesman terbesar, mengakuinya pada suatu wawancara terakhir bahwa ”sebagian besar perusahaan mengeluarkan terlalu banyak dalam (dalam TI) dan mendapatkan pengembalian yang sangat kecil”. Sejalan dengan kesempatan dalam keunggulan berdasar TI yang cenderung menyempit, hukuman atas kelebihan pengeluaran akan cenderung meningkat.

Manajemen TI seharusnya, sejujurnya, menjadi bosan. Kunci kesuksesan, bagi mayoritas perusahaan, adalah dengan tidak melihat keuntungan secara agresiv tetapi mengatur biaya dan risiko secara meticulously. Jika, seperti sebagian eksekutiv, anda telah memulai mengedepankan posisi bertahan dalam TI di dua tahun terakhir, membelanjakan lebih sederhana dan berpikir lebih prakmatis, anda telah berada di jalur yang benar. Tantangannya adalah untuk terus berada dalam posisi tersebut ketika siklus bisnis menguat, dan pengulangan yang berlebihan mengenai nilai startegis TI meningkat.

Untuk membaca artikel lain, kunjungi HBS Working Knowledge, sebuah sumber analisa, informasi dan riset bisnis online.

Komentar atas artikel “Why IT Doesn’t Matter Anymore”

Artikel tersebut membahas mengenai perkembangan teknologi yang telah merubah perilaku manajemen perusahaan serta perkembangan strategi manajemen dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi (TI). Manajemen semula beranggapan bahwa komputer hanya sekedar mesin ketik dan kalkulator dalam bentuk lebih mewah. Saat ini manajemen telah memandang komputer dan teknologi informasi sebagai alat untuk mencapai keunggulan kompetitif. Pandangan tersebut merubah perilaku manajemen dalam menghadapi perkembangan teknologi. Manajemen menjadi lebih agresif dalam memanfaatkan teknologi untuk memperoleh peluang keunggulan kompetitif. Perubahan dunia usaha yang paling utama adalah lahirnya posisi kepala bagian informasi (chief information officer) dalam bentuk bisnis saat ini yang menandakan perubahan pandangan manajemen atas peran TI. Seiring dengan perubahan perilaku manajemen, perkembangan TI telah mendorong TI menjadi komoditas perdagangan. Para vendor memanfaatkan hal ini dengan merekayasa pengemasan komoditas TI sehingga menarik manajemen untuk membeli komputer dan perangkat TI lainnya meskipun perusahaan belum tentu membutuhkan. Perilaku vendor tersebut membutuhkan kebijakan manajemen dalam mengatur pembeljaan TI mereka. Strategi devensiv dalam pembelanjaan TI sebagaimana ditawarkan dalam artikel ini merupakan langkah yang bijak. Perusahaan dapat menghemat biaya percobaan perangkat baru yang akan menjadi beban bagi perusahaan pesaingnya yang menerapkan strategi ofensiv dalam pembelanjaan TI nya.

Contoh kasus

Kasus yang paling menarik dalam ”perang” pemanfaatan TI untuk mencapai keunggulan kompetitif di Indonesia bisa dilihat dalam dunia perbankan. Sebagai contoh adalah Bank Central Asia (BCA) dan Bank Mandiri. Saat ini kedua bank tersebut merupakan pemimpin dalam dunia perbankan di Indonesia. Perkembangan TI dalam dunia perbankan ini meliputi hal-hal antara lain ATM, internet banking, SMS banking, dan phone banking. Penggunaan TI dalam perbankan ini bertujuan mencoba menarik nasabah dengan fitur kemudahan akses.

Bank Mandiri memamfaatkan TI untuk memberikan pelayanan berupa ATM, m-ATM, SMS banking, internet banking dan call Mandiri. Sementara BCA juga menggunakan TI yang serupa untuk memberikan pelayanan kepada nasabahnya. Produk-produk BCA yang menggunakan TI meliputi ATM, debit BCA, tunai BCA, m-BCA, klik BCA, dan phone BCA. Semua fitur produk-produk perbankan tersebut bertujuan memberikan kemudahan bagi nasabahnya dalam melakukan transaksi perbankan. Pemberian kemudahan melalui penggunaan TI ini diharapkan mampu menarik minat nasabah potensial untuk menjadi nasabah bank tersebut.

Manfaat TI

Sebagai mahasiswa, peran TI tentu sangat penting. Kemudahan akses atas informasi membantu dalam pengembangan dan penyebaran pengetahuan. Informasi yang mudah diakses juga akan sangat membantu dalam proses penelitian suatu masalah serta memperoleh referensi yang memadai untuk menulis suatu makalah. Peran TI dalam menyediakan kemudahan akses informasi membuka wawasan kita atas suatu peluang yang mungkin bisa kita manfaatkan. Sebagai contoh adalah informasi lowongan pekerjaan dan peluang bisnis. Semua informasi tersebut bisa kita akses melalui internet dengan bantuan TI.

JURNAL 1

THE VALUE AND USEFULNESS OF INFORMATION TECHNOLOGY IN FAMILY AND CONSUMER SCIENCES EDUCATION AS PERCEIVED BY SECONDARY FACS TEACHERS

Betty C. Harrison Donna H. Redmann Joe W. Kotrlik

Louisiana State University

Studi ini menunjukkan nilai dan kegunaan teknologi informasi pada family and consumer science ( FACS) suatu program pendidikan di Lousiana. Di dalam studi ini, teknologi informasi meliputi teknologi seperti komputer, Internet, laser disk, dan video conferencing. Suatu design pertanyaan digunakan untuk mengumpulkan data dari suatu sampel secara random yaitu semua guru di Louisiana. Para guru FACS menghargai teknologi informasi, dan teknologi informasi di dalam program dan manajemen pengajaran merupakan suatu hal yang cukup berguna bagi para guru FACS. Terdapat hubungan positif yang rendah di antara bagaimana para guru menghargai teknologi informasi dan ketersediaan teknologi komputer di rumah dan sekolah. Sedikitnya separuh dari para guru FACS mempunyai koneksi Internet.

Meskipun demikian para guru FACS menilai bahwa internet dan jenis lain teknologi informasi, saling berhubungan tetapi mungkin belum dapat terealisasi. Ini mungkin merupakan fakta dari hubungan negatif yang rendah diantara penilaian terhadap teknologi informasi yang dirasakan oleh para guru dengan jika setiap guru yang berada di sekolah dapat terkoneksi dengan internet. Banyak perubahan sudah berlangsung pada pendidikan di FACS pada dekade lalu, terutama sekali di dalam area teknologi informasi.

Perubahan ini bahkan yang lebih penting untuk FACS dan para guru kejuruan lain karena para siswa kursus kejuruan para siswa akademis lebih menyukai untuk menggunakan koputer dan demikian juga para siswa akademis( Heaviside, et al., 1992). Bagaimana berharganya dan bermanfaatnya teknologi informasi di dalam program pendidikan FACS ? Pomeroy ( 1990) menemukan bahwa 50% dari guru yang mengajar sekolah kejuruan di Selatan Nevada adalah tidak menggunakan komputer dan 62% dari guru yang mengajar sekolah kejuruan yang sudah menggunakan komputer mengindikasikan bahwa mereka mempelajari komputer sendiri. Sebagai tambahan, 71% yang menunjukkan bahwa mereka mempelajari komputer setelah mulai bekerja sebagai pengajar. Daulton ( 1997) melaporkan bahwa jumlah guru FACS menggunakan teknologi komputer telah meningkat dari 5% di tahun 1983 menjadi 83% di tahun 1993.

Dia menyimpulkan bahwa, " Walaupun mikrokomputer tidak pernah mencapai jumlah pemakainya hingga 100%di tahun 1993, mikrokomputer untuk tujuan pendidikan yang digunakan oleh para guru FACS telah menghilangkan kepercayaan bahwa mikrokomputer akan secepatnya berakhir seperti halnya yang terjadi pada peralatan audio visual lainnya" ( p 59). Pada tahun 1996 studi yang dilakukan oleh para guru di Idaho, Mathews, Davis dan Hamilton menemukan bahwa lebih dari separuh dari semua guru tidak pernah benar-benar teknologi menggunakan dalam kegiatan mengajar. Lebih dari separuh dari jumlah mereka adalah pemula dalam semua area yang dipelajari.

Di dalam suatu kelas yang mempelajari teknologi mengadakan Asosiasi Pendidikan Nasional ( Princeton Rekanan Riset, Inc., 1993), hal tersebut mengungkapkan bahwa sekolah terlambat untuk menggantikan teknologi yang sudah ketinggalan zaman. Satu dari empat guru telah menggunakan laser disk/videodisk, software hypermedia/multimedia, dan CD-ROM dalam proses mengajar. Mereka juga melaporkan suatu kekurangan dalam akses ke sumber yang penting; hanya 16% mempunyai komputer di dalam kelas dan hanya 18% mempunyai akses ke jaringan komputer.

Chin dan Hortin ( 1994) menemukan banyak studi terbaru yang sudah menunjukkan bahwa sebagian besar para guru ingin menggunakan teknologi yang paling baru dan untuk menyiapkan para siswa untuk menghadapi dunia teknologi di luar sekolah. Rupanya, apa yang diinginkan oleh para guru tersebut masih memerlukan waktu yang lebih lama lagi yaitu untuk memperoleh pemahaman dan pengetahuan teknologi , dan untuk menyerap pelajaran dari teknologi tersebutagar dapat bermanfaat bagi mereka. ( p. 87).

McCaslin dan Torres ( 1992) menemukan bahwa terdapat tiga faktor yang dapat memberi keterangan bahwa ada perbedaan sikap para guru kejuruan menyangkut penggunaan mikro komputer dalam masa pelatihan yaitu: nilai pendidikan, kepercayaan, dan pengertian tentang teknologi yang mereka gunakan. Walaupun belum ada riset terbaru yang diselenggarakan mengenai tingkat ketertarikan terhadap komputer dari para guru FACt, studi yang berhubungan dengan pendidikan agriscience yang dilakukan oleh Fletcher dan Deeds( 1994), dan Kotrlik dan Smith ( 1989) yang menemukan bahwa tingkat ketertarikan guru komputer terhadap agriscience semakin meningkat, hal tersebut dapat diukur dengan Oetting's Computer Anxiety Scale (COMPASS). Tingkat ketertarikan para guru berkurang sedangkan ketrampilan komputer mereka meningkat.

Teknologi merupakan bagian dari pendidikan pre- service dan in-service yang dilakukan oleh guru. Pendidikan diluar jam sekolah telah menjadi kebiasaan di tingkat universitas, dan merupakan hal yang penting seperti halnya ketika mendapatkan pelajaran dikelas bersama guru. Torisky et al. ( 1997) menguraikan bahwa teknologi multimedia diperlukan untuk memberi suatu dasar pelajaran pada tingkat perguruan tinggi. Kelas nya dilengkapi dengan presentasi materi kuliah dengan menggunakan komputer, laserdisk player, TV/VCR, kamera dokumen, compact disk, atau beberapa kombinasinya. Walaupun universitas sering mempunyai teknologi yang jauh lebih maju dibanding teknologi yang ada di sekolah menengah, para guru FACS harus lebih maju dalam menggunaan teknologi dalam instruksi mereka. Threlfall ( 1998) menyatakan bahwa disain pakaian dan barang dari para siswa harus disiapkan melebihi peralatan seni. Walaupun ini hanya dua contoh bagaimana teknologi berdampak pada program FACS, merupakan hal yang jelas bahwa teknologi melebihi semua aspek dari program FACS.

Beberapa studi telah dilakukan yang ditujukan untuk melihat hubungan antara variabel demografis dan penggunaan teknologi informasi. Zidon dan Miller ( 1990) menemukan bahwa adanya hubungan yang lemah antara variabel demografis seperti umur, jenis kelamin, dan tahun mengajar dengan persepsi penggunaan komputer. Mereka menyimpulkan bahwa " variabel demografis seperti itu tidak perlu dipertimbangkan dalam merencanakan masa pelatihan perencanaan yang melibatkan komputer dalam suatu kurikulum agriculture sekunder." ( p. 237). Pendapat ini tidak dinyatakan oleh peneliti lain dan belum pernah ditemukan bukti bahwa studi ini telah dilakukan terhadap para guru FACS.

Dalam suatu kelas studi nasional mengenai teknologi , studi untuk Asosiasi Pendidikan Nasional ( Princeton Rekanan Riset, Inc., 1993) menemukan bahwa hampir dua pertiga ( 59%) para guru dengan usiadi bawah 35 tahun percaya bahwa menggunakan komputer di dalam kelas adalah penting, sedangkan hanya 29% guru dengan usia diatas 55 tahun yang memiliki kepercayaan tersebut. Setengah dari para guru yang menggunakan teknologi yang kurang di sekolah mempunyai komputer rumah. Kurang teknologi di sekolah telah menyebabkan berkurangnya jumlah teknologi informasi di dalam kurikulum mereka.

Mathews et al. ( 1996) menemukan bahwa gelar sarjana diperoleh melalui persepsi yang baik dari guru tentang kemampuan mereka untuk menggunakan teknologi dalam mempersiapkan materi pelajaran, tingkat penggunaan teknologi yang lebih tinggi yang digunakan oleh para guru yang memiliki gelar sarjana dibandingkan dengan mereka yang hanya lulusan sekolah lanjutan.

Fletcher dan Perbuatan ( 1994), dan Kotrlik dan Smith( 1989) melaporkan bahwa para guru yang lebih muda lebih mungkin untuk mempunyai kemampuan menguasai komputer pada tingkat yang lebih tinggi dan ketertarikan terhadap komputer berkurang ketika kemampuan dalam menguasai komputer meningkat. Belum ada studi yang ditemukan yang dapat mendokumentasikan suatu hubungan penting antara keikutsertaan profesional didalam konvensi dan konferensi, dengan nilai teknologi informasi bagi para guru. Secara ringkas, belum ada studi terbaru yang diselenggarakan mengenai bagaimana para guru FACS memberi penilaian terhadap teknologi informasi. Studi ini dirancang untuk menjawab pertanyaan para guru FACS di Louisiana. Hasil akan bermanfaat di dalam perencanaan pre-service dan in-servicedalam program pelatihan untuk para guru FACS.

Tujuan dan Hasil

Tujuan studi ini adalah menentukan nilai dari teknologi informasi di dalam Program pendidikan FACS yang dapat dilihat dari para guru FACS. Sasaran hasil akan menentukan: ( a) karakteristik demografis guru ( gelar yang dimiliki, umur, jenis kelamin, etnis, lamanya pengalaman dalam mengajar, lokasi di mana letak sekolah [ pedesaan, di pinggiran kota, atau kota], tingkatan sekolah [ sekolah menengah, sekolah menengah pertama, atau kedua-duanya], keikutsertaan dalam asosiasi profesional); ( b) nilai teknologi informasi yang dapat dilihat dari para guru; ( c) persepsi guru mengenai kegunaan potensi teknologi informasi dalam memanajemen pelajaran dan program; dan ( d) jika terdapat hubungan antara variabel terpilih dengan nilai teknologi informasi bagi para guru.

Prosedur-prosedur

Populasi untuk studi ini mencakup 589 guru di sekolah menengah FACS ( kelas 7-12) di Lousiana selama tahun ajaran 1997-1998. Studi ini merupakan bagian dari suatu studi yang lebih besar mengenai para guru kejuruan di sekolah menengah di mana pengambilan sampel dilakukan dengan metode stratified random sample yang diambil dari tiap populasi guru kejuruan yang berbeda. Jumlah sampel minimum yang harus dikembalikan oleh populasi guru FACS ditentukan sebanyak 133 dengan menggunakan Cochran's sample size formula (Cochran, 1977). Ukuran sampel yang menggunakan guru FACS adalah sebanyak 264 guru yaitu sejumlah 50% dari jumlah perespon. Setelah dilakukan dua proses yaitu melalui pos dan telepon, tanggapan diterima dari 141 guru ( dengan tingkat respon sebesar 53.4%).

Instrumen dikembangkan berdasarkan pada sasaran hasil dalam studi itu. Pertimbangan dan materi yang digunakan dalam instrumen dipilih setelah adanya tinjauan ulang menyangkut literatur itu. Kebenaran dari bentuk dan isi dari penelitian ini dievaluasi oleh sejumlah tenaga ahli dari fakultas pendidikan kejuruan di universitas dan asisten yang telah bergelar doktoral. Sebagai bagian dari studi yang lebih besar, instrumen yang dijadikan dasar pengujian adalah 40 guru kejuruan. Delapan guru adalah guruFACS yang belum terpilih dalam sampel untuk studi itu. Sedikit perubahan diusulkan oleh orang yang membuat pengesahan dan dari hasil percobaan bidang dibuat. Perubahan ini terjadi di dalam susunan kata dari materi dan dalam instruksi untuk melengkapi instrumen itu. Cronbach'S ( 1977) koefisien konsistensi internal untuk " Nilai Teknologi informasi di dalam Instruksi" memiliki skala 89 dan koefisien untuk " Kegunaan Teknologi informasi di (dalam) Manajemen Intervi dan Program" memiliki skala 91.

Untuk menentukan bahwa sampel dapat mewakili populasi dan untuk mengendalikan non-respose error, maka ditentukan skala prioritas yang dipertimbangkan sebagai variable yang utama dalam studi ini dan skala tersebut diperbandingkan melalui model respon (surat versus telephon) seperti yang direkomendasikan oleh Borg (1987) dan Miller dan Smith (1983). Secara statistik tidak ada perbedaan yang signifikan dalam menentukan skala dari instrument tersebut berdasarkan model respon. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan dalam model respon dengan data yang direpresentativekan berdasarkan populasi. Respon surat dan telefon mengkombinasikan analisis selanjutnya. Data analisis terdiri dari statistik deskriptif untuk sasaran hasil 1- 3 dan koefisien korelasi yang sesuai untuk hasil 4 ( berdasarkan pada jenis variabel ). Level alfa untuk studi ini ditentukan sebesar 5 berdasarkan pada penelitian sebelumnya.

Penemuan

Tujuan pertama adalah menentukan karakteristik demografis para guru sekolah menengah FACS. Ketika para guru dimintai keterangan mengenai tingkatan pendidikan mereka, hampir separuh ( 45.6%) yang melaporkan bahwa mereka memiliki gelar sarjana, 27.9% mempunyai gelar master, 25.7% mempunyai gelar master ditambah 30 jam atau sertifikat spesialis pendidikan, dan 0.7% mempunyai gelar doktoral. Semua ( 100%) adalah wanita. Sebagian besar para guru berkulit putih ( 74.3%), sedangkan 22.1% berkulit hitam. Rata-Rata mereka berumur 45 tahun ( range= 23-60, mode=50) dan rata-rata tahun mengajar adalah 18.1. Sebagian besar ( 46.3%) mengajar di area pedesaan, 23.5% di wilayah perkotaan, dan 25.7% di area pinggiran kota. Sebagian besar ( 65.4%) mengajar di tingkatan sekolah menengah, 21.3% mengajar di tingkatan sekolah menengah pertama, 10.3% mengajar kedua-duanya, dan 2.2% mengajar pada tingkatan lain. Kurang dari sebagian ( 44.8%) telah terlibat kalam konvensi konferensi kejuruan sedikitnya sekali dalam tiga tahun hanya 15.4% tmenghadiri suatu konvensi asosiasi kejuruan nasional atau regional dalam tiga tahun. Lebih dari separuh ( 57.4%) guru di sekolah itu terhubung dengan Internet.

Tujuan kedua adalah menentukan nilai teknologi informasi yang dapat dilihat dari para guru FACS di Lousiana. Responden menilai masing-masing statemen berdasarkan pada skala berikut : 1= betul-betul tidak sependapat, 2= tidak sependapat, 3= ragu-ragu, 4= setuju, dan 5= betul-betul setuju. Data mengungkapkan bahwa para guru FACS menempatkan suatu nilai tinggi pada teknologi informasi dengan betul-betul bersetuju ( M= 4.5) para guru itu perlu mengetahui bagaimana cara menggunakan komputer dan para guru itu perlu mempunyai komputer yang tersedia untuk mengajar. Responden menyetujui ( M = 3.5-4.49) bahwa semua teknologi yang terdaftarkan harus tersedia dan juga setuju ( M = 3.5-4.49) dengan semua statemen positif mengenai nilai teknologi informasi dalam program pengajaran. Mereka ragu-ragu ( M = 2.5-3.49) pada teknologi informasi yang terlalu mahal dan tidak hemat biaya, dan tidak setuju ( M = 1.5-2.49) dengan semua pernyataan lainyang dinyatakan secara negatif. Data ini ditampilkan dalam Tabel 1.

Tujuan ketiga adalah menentukan persepsi guru FACS di Louisiana(menyangkut potensi kegunaan teknologi informasi di (dalam) program dan managemen pengajaran. Responden menilai masing-masing statemen pada skala berikut : 1= tidak bermanfaat, 2= kurang bermanfaat, 3= ragu-ragu, 4= cukup bermanfaat, dan 5= sangat bermanfaat. Data mengungkapkan bahwa para guru FACS melihat bahwa teknologi informasi itu cukup bermanfaat ( M = 3.5-4.49) yang menyangkut sepuluh area program dan manajemen pengajaran terlihat di dalam skala ( Tabel 2).

Tujuan keempat mencoba untuk menentukan adanya hubungan antara variabel terpilih dan kedudukan atas nilai teknologi informasi menurut para guru FACS di Louisiana. Data di (dalam) Tabel 3 pertunjukan yang satu itu variabel ( ketersediaan teknologi komputer di rumah dan sekolah) memiliki hubungan positif yang rendah dan sebuah variabel ( apakah sekolah terhubungkan Internet) memiliki hubungan negatif yang rendah dengan nilai teknologi informasi.

Kesimpulan

Para guru FACS di Louisiana menghargai teknologi informasi. Teknologi informasi didalam program dan manajemen pengajaran cukup bermanfaat bagi para guru FACS. Adanya hubungan positif yang rendah antara bagaimana para guru menilai teknologi informasi dan ketersediaan teknologi komputer di rumah dan sekolah. Sedikitnya separuh dari para guru FACS memiliki teknologi komputer tersebut.

Koneksi internet. Meskipun para guru FACS menghargai Internet dan jenis teknologi informasi yang lain, namun sistem pengajaran yang terkoneksi dengan internet belum dapat terealisasi. Ini merupakan bukti adanya hubungan negatif yang rendah antara nilai teknologi informasi yang dapat dilihat dari para guru dengan apakah guru di sekolah telah terhubung dengan internet.

Rekomendasi

Ketika adanya korelasi yang rendah atau dapat diabaikan di antara nilai teknologi informasi yang dapat dilihat dari para guru dengan variabel demografis yang dipilih dalam studi ini ( umur, gelar yang dimiliki, pengalaman mengajar, level pekerjaan di sekolah, keikutsertaan dalam konferensi profesional), dapat terlihat bahwa secara keseluruhan tidak perlu memasukkan variabel demografis ini didalam pengambilan keputusan mengenai perencanaan pelatihan teknologi informasi. Penyelidikan mengenai nilai teknologi informasi yang dapat dilihat dari guru direkomendasikan untuk diteliti lebih lanjut. Meskipun hubungan tersebut rendah, riset lebih lanjut menunjukkan korelasi negatif yang rendah antara nilai teknologi informasi yang dapat dilihat dari para guru dengan apabila mereka sudah memiliki jaminan untuk dapat mengajar dengan terhubung internet. Walaupun para guru menghargai teknologi informasi, studi ini tidak menunjukkan tingkat ketrampilan mereka dalam menggunakan teknologi informasi. Riset lebih lanjut diperlukan untuk menentukan tingkatan ini dan bagaimana tingkatan ini berdampak pada kualitas program FACS.

Implikasi

Studi ini mendokumentasikan fakta bahwa para guru FACS menghargai teknologi informasi. Program FACS harus menyiapkan para siswa dalam menghadapi tempat kerja dan masyarakat, baik untuk saat ini maupun di masa datang. Para guru harus melanjutkan untuk menghargai teknologi informasi dan mencari jalan untuk menghubungkan program dan menejemen pengajaran dengan teknologi informasi yang sesuai, terutama internet. Ini merupakan hal yang penting jika mereka mengharapkan kesuksesan dalam penggunaan dan proses pengajaran kepada para siswa. Yang pasti, teknologi informasi adalah suatu hal yang penting bagi semua guru dan siswa.