Showing posts with label smallbusiness. Show all posts
Showing posts with label smallbusiness. Show all posts

Sunday, 20 July 2008

Info Artikel 5


Tips Memulai Bisnis dari Hobi

Hobi adalah cara tepat untuk memulai bisnis. Mengapa? Karena menggabungkan antara kesenangan, minat dan bakat. Dengan begitu, Anda tidak akan merasa terbebani saat bekerja atau membangun bisnis. Seolah-olah Anda melakukannya sambil bermain. Bukan itu saja, jika itu adalah hobi, maka pasti Anda sudah tahu seluk-beluknya bahkan sampai detil. Misalnya saja Anda hobi merawat tanaman. Pasti Anda tahu di mana mendapatkan bibit yang baik, tempat membeli pupuk, media dan bahan penunjang lainnya dengan harga murah dan cara perawatan dan budidaya tanaman. Mungkin juga Anda sudah bergabung dengan komunitas hobiis yang sama. Ini mempermudah Anda memperoleh informasi dan relasi.

Lalu, bagaimana untuk memulai bisnis dari hobi ini? Sebenarnya hampir sama dengan memulai suatu bisnis baru. Bedanya, Anda sudah punya basis pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang memadai. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan adalah:

1. Tekuni Hobi Anda
‘Practice makes perfect’ . Jika selama ini Anda melakukan hobi karena untuk mengisi waktu luang atau iseng, mulai kini Anda harus tekun berlatih. Jangan lupa praktik langsung dari semua teori yang sudah Anda pelajari. Dengan terus berlatih, kemampuan Anda akan meningkat dan Anda mampu menghasilkan produk terbaik. Ini tentu akan menaikkan nilai jualnya.

2. Tambah pengetahuan Anda
Tidak cukup jika mengandalkan pengalaman. Anda perlu menambah pengetahuan melalui kursus, seminar atau pelatihan yang berkaitan dengan hobi. Lewat aktivitas semacam itu, Anda akan memperoleh pengetahuan serta sertifikat yang bisa menaikkan personal branding dan prestise. Ini akan menumbuhkan kepercayaan pelanggan. Tak ada salahnya membaca buku, majalah, internet atau media lain untuk meningkatkan pengetahuan Anda. Dengan mengikuti milis (mailling list) sesuai hobi, Anda bahkan bisa memperoleh tambahan wawasan. Bisa jadi malah ketemu ahlinya langsung. Tentunya ini sangat bermanfaat.

3. Belajar dari Ahlinya
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Tidak perlu pengalaman itu Anda alami sendiri. Anda bisa menimba pengalaman dari pelaku bisnis yang telah sukses. Misalnya belajar dari pengusaha tanaman hias yang telah sukses. Atau belajar dari dosen peneliti yang mumpuni. Belajar langsung dengan para pakar dan orang yang sukses menjalankan hobi sesuai yang Anda tekuni, akan meningkatkan kemampuan Anda. Ini adalah cara terbaik untuk menghasilkan sebuah produk yang bagus dan kompetitif baik dari segi kualitas maupun harga. Bahkan Anda bisa mengukur kemampuan dan hasil karya Anda.

4. Pasarkan produk Anda
Jika produk Anda sudah siap, segera pasarkan. Untuk tahap awal, bisa ditawarkan ke komunitas yang Anda ikuti. Atau ke lingkungan terdekat seperti tetangga dan saudara. Keuntungannya, Anda bisa meminta masukan tentang produk Anda, dan memperbaikinya sebelum disebarluaskan. Jika respon mereka bagus, Anda bisa mencoba menawarkan ke toko-toko. Hanya saja, beberapa jenis toko hanya mau menerima barang dari suplier tertentu.
Atau kalau tidak, mereka memberikan syarat tertentu, semisal jumlah minimal item barang, kontinuitas pasokan, potongan harga, dll.
Jika produk Anda unik dan tidak pasaran, lebih baik melakukan pemasaran online. Selain murah, Anda bisa menjangkau konsumen yang tepat.

5. Jangan lupa: Promosi!
Pemasaran yang baik perlu ditunjang dengan promosi yang baik pula. Jangan malas untuk mempromosikan produk Anda. Promosi bisa dilakukan dengan banyak cara. Jika ingin gratis, bisa lewat situs iklan gratisan. Atau beriklan di milis-milis. Jika ingin promosi secara personal, bisa dengan membagikan sampel kepada calon pembeli kita. Memberi bonus pada jumlah pembelian tertentu juga bagus untuk promosi. Umumnya bila pelanggan puas, mereka akan bercerita kepada orang lain.

Source:http://www.beritanet.com/Business/Entrepeneurship/Tips-Memulai-Bisnis-dari-Hobi.html

Tuesday, 15 July 2008

OPINION 1

FaKtor-faktor yang mempengaruhi keputusan untuk melakukan e-bussiness

Indonesia hari ini di servis oleh 40-an Internet Servis Provider (ISP) dari 130-an ISP lisensi yang ada. ISP Indonesia melayani sekitar 1,5 juta pengguna aktif. Mereka sebagian besar anak muda 20-30 tahun & berpendidikan SMU ke atas. Apakah kondisi pasar ini menjadi potensial untuk melakukan e-commerce? Paling tidak survey yang dilakukan MarkPlus & Swa di awal tahun 2000 menunjukan kurang dari 10% dari 1000+ responden yang melakukan pembelian melalui kartu kredit. Dengan teknologi warung internet jika diimplementasikan ke pusat massa seperti sekolah, perkantoran, wartel, perguruan tinggi, pesantren, madrasah sebetulnya kita dapat dengan mudah melihat 20-an juta pengguna Internet dalam waktu 2-3 tahun mendatang. Bahkan secara teknologi sebetulnya kita bisa menekan biaya akses Internet menjadi sekitar Rp. 10-30.000 / bulan / orang termasuk untuk keperluan SLJJ & SLI menggunakan internet telepon. Untuk sebagian lembaga pendidikan tinggi kita dapat menekan biaya sampai sekitar Rp. 5000 / bulan / mahasiswa. Cerita akan menjadi lebih seru jika kita bisa mencapai target untuk memberikan akses internet kepada setiap orang di Asia Pasifik sebelum tahun 2005 seperti dicanangkan oleh Asia Pacific Summit Information Society di Tokyo bulan Oktober 2000 yang lalu dengan mengeluarkan Tokyo Declaration & Action Plan. Bayangkan kita akan melihat paling tidak 150-an juta orang Indonesia di Internet tentunya akan menarik cerita ini. Dengan kondisi yang serba terbatas tentunya kita harus jeli dalam melakukan manouver agar survive dalam usaha yang dilakukan.

Berbagai media massa maupun rangkaian seminar yang demikian gencar tentang e-commerce memang cukup mengangkat konsep e-commerce ke permukaan. Bahkan sering kali e-commerce hampir didaulatkan menjadi salah satu cara yang paling ampuh untuk berusaha di Internet. Lebih sial lagi, konsep e-commerce sering di campur adukan dengan media online kerane keberhasilan detik.com, astaga!com, satunet dll. Akhornya sering kita terjebak dalam pola fikir bahwa untuk sukses di Internet harus mempunyai portal yang memuat banyak berita, yang mempunyai banyak produk yang di tawarkan melalui Web, yang berhasil memotong / memperpendek rantai supply, yang terkait ke payment gateway yang dioperasikan oleh Bank. Belum lagi kompleksitas teknologi yang banyak di dengungkan mulai dari push technology, authentication, certificate authority (CA), digital signature, biometric authentication (finger print, voice recognation, muka, mata), XML, HTML, Storage Access Network (SAN) dll semua rasanya demikian kompleks untuk menjalankan e-commerce secara “baik” dan “benar”. Memang pola fikir demikian tidak ada salahnya terutama bagi mereka yang bermodal kuat, masalah utama yang menjadikan cerita e-commerce menjadi menantang karena ternyata pengguna Indonesia & di dunia di dominasi anak muda - artinya bukanlah pasar yang mempunyai uang cukup banyak untuk dibuang untuk hal yang konsumtif. Di tambah sialnya cyberpreneur muda ini juga umumnya tidak mempunyai cukup uang / finansial yang kuat untuk menahan napas melawan portal besar yang jor-joran membagi servis-nya secara cuma-cuma.

Mungkinkah para dotcommers muda mampu bertempur melawan para pebisnis kawakan dari old economy? Mengapa tidak? Kenyataannya, saat ini tidak banyak orang yang betul-betul menguasai teknik untuk berusaha di Internet. Para pebisnis dunia lama-pun sebetulnya masih meraba-raba cara yang paling baik untuk melakukan penetrasi di dunia Internet. Dengan kondisi yang sama-sama sedang belajar ini sebetulnya kesempatan para dotcommers muda untuk survive sama dengan para pebisnis kawakan dari old economy.

Teknologi memang bukan merupakan fokus utama dalam kesempatan ini. Saya yakin para pembaca mulai bisa merasakan bahwa e-commerce maupun media online bukan satu-satunya cara untuk bisa survive dalam dunia maya. Apalagi pengusaha e-commerce & media online yang ada umumnya memposisikan pengguna sebagai konsumen, sehingga pengguna mengeluarkan uang untuk bertransaksi. Memposisikan pengguna lain sebagai konsumen mengandung konsekuensi finansial cukup besar untuk iklan & promosi, untuk server multimedia, untuk membangun content yang bisa menarik pengguna lain untuk masuk dan mengikat dirinya ke fasilitas yang kita sediakan. Pola old economy tampaknya masih banyak tertanam di banyak dotcommers di Indonesia maupun di luar negeri yang umumnya berfikiran bahwa dotcommer harus menyediakan fasilitas untuk menarik demand. Pola supply created demand bukanlah pola yang baik untuk di ikuti oleh sebagian besar dotcommers muda yang umumnya kekurangan dana.

Melihat kenyataan bahwa banyak dotcommers / cyberpreneur yang survive dalam kehidupannya di Internet menunjukan bahwa ada model-model usaha selain e-commerce & media online yang cocok bagi dotcommers muda yang bermodal pas-pasan. Berbeda dengan pola old economy yang sifatnya lebih top down dan supply created demand dengan konsekuensi finansial yang tinggi. Pada dotcommers muda dengan modal pas-pasan hampir dapat dipastikan untuk dapat survive harus membalikan paradigma menjadi demand created supply berbasis pola kemitraan yang tidak membedakan derajat seseorang sebagai supplier / produsen / konsumen. Memang pola kemitraan ini menyebabkan sistem menjadi lebih sosialis & bersifat gotong royong akan tetapi sangat ampuh bagi dotcommers yang masih muda dan dana terbatas.

Untuk memaksimalkan penguasaan medan di internet sedikit pengetahuan tentang prinsip dasar karakteristik Internet akan sangat membantu. Karakteristik Internet sangat berbeda dengan umumnya media massa yang lebih bersifat tayangan satu arah saja. Internet merupakan media yang sangat memungkin untuk melakukan interaksi yang sangat intensif dengan banyak orang sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Kemampuan untuk mengeksploitasi karakteristik interaktif ini yang akan menjadi kunci survive seorang cyberpreneur di Internet; baik para veteran maupun dotcommers muda.

Tambahan khusus untuk situasi Indonesia kita harus jeli mensiasati kondisi infrastruktur Internet yang demikian lambat, penggunaan teknologi multimedia yang mewajibkan infrastruktur berkecepatan tinggi akan menghalangi kita dalam melakukan penetrasi ke masyarakat internet di Indonesia yang kebanyakan hanya mampu membayar akses jasa yang sifatnya text based seperti e-mail. Kebanyakan para pengusaha kaya justru mengkonsentrasikan pada proyek mercusuar multimedia dan padat teknologi, hal ini bisa jadi nantinya merupakan kesalahan paling fatal yang tanpa di sadari dilakukan secara berulang. Itulah paradigma supply created demand yang sering overshoot dalam membidik sasaran karena difokuskan pada penampilan fisik.

Berbeda dengan dunia fisik dimana kita berada & bekerja yang biasanya lebih mudah merepresentasikan hal yang sifatnya material fisik. Di Internet kita berenang dalam lautan informasi & pengetahuan. Berbeda dengan dunia nyata yang lebih banyak di dominasi oleh kualitas material fisik yang kita miliki / kita hasilkan; dalam dunia Internet kebaikan / keberhasilan akan lebih di tentukan oleh kualitas informasi dan pengetahuan yang kita hasilkan dan kita sebarkan ke masyarakat melalui berbagai media termasuk melalui internet baik secara satu arah maupun interaktif dua arah.

Karena semua pengusaha di Internet sebetulnya masih dalam taraf belajar, secara logika sederhana Internet pasti tidak hanya diperuntukan bagi orang / konglomerat yang bermodal kuat; atau orang dekat dengan kekuasaan dan perusahaan yang di dukung oleh banyak sekali pakar / ahli. Dunia Internet layaknya sebuah dunia kebebasan, tidak ada satu kekuasaan-pun termasuk para kroni-nya yang bisa menguasai dunia Internet secara utuh, sekedar kaya & bermodal kuat tidak akan cukup untuk menguasai Internet; bahkan di bantu oleh ratusan konsultan / pakar dalam membangun situs di Internet tidak menjamin sama sekali. Lebih sial lagi berbagai teknik / strategi dotcommers yang mungkin sukses besar di luar negeri belum tentu cocok dengan Indonesia yang budaya & infrastrukturnya lebih sederhana.

Bagi para veteran Internet Indonesia yang sudah bermain e-mail sejak tahun 1985-an secara naluriah akan dapat menentukan cara yang paling effektif dan halus tanpa melakukan pemaksaan untuk penetrasi ke dalam image para pengguna Internet yang ada di Indonesia. Masyarakat Internet sangat berbeda sekali karakteristik-nya dengan masyarakat umumnya di Indonesia yang relatif agak mudah untuk di arahkan, di gerakan, di kontrol oleh kekuasaan dll. Di Internet dengan komposisi pengguna yang umumnya berpendidikan dan masih muda menyebabkan kemapanan menjadi sesuatu yang tidak terlalu menguntungkan; kedinamisan justru yang akan menjadi hal yang sangat menarik di Internet. Ketidak mapanan ini yang akhirnya menjadi kunci utama bagi kaum muda dan orang yang dinamis untuk mengeksploitasi & melakukan penetrasi di Internet.

Pada akhirnya bukan modal, bukan kekuasaan yang akan menentukan kemampuan seseorang / sekelompok orang untuk survive di Internet akan tetapi dinamika & kemampuan berteman (networking). Keaktifan dalam berinteraksi dan berpartisipasi dalam komunitas pada akhirnya akan menjadi kunci keberhasilan utamanya. Contoh legendaris tentang ini adalah sistem operasi Linux yang di awali keisengan Linus pada waktu dia masih mahasiswa. Linus melepaskan sistem operasinya secara cuma-cuma (gratis) ke masyarakat maya di Internet dan kemudian bersama-sama mengembangkan sistem operasi tersebut dengan bekerjasama dengan banyak orang di seluruh dunia. Komunitas terbentuk tidak ada batasan yang jelas antara produsen, programmer, pengguna, konsumen semua sejajar bekerja bahu membahu saling tolong menolong untuk kebaikan bersama. Memang di awalnya terlihat kumuh akan tapi dalam selang waktu hampir 10 tahun akhirnya terbentuk komunitas yang sangat solid bahkan merupakan kompetitor yang berbahaya bagi microsoft.

Generasi pertama e-commerce dilakukan hanya antar perusahaan berupa transaksi jual beli yang difasilitasi oleh electronic data interchange (EDI). Dalam transaksi jual beli elektronik ini banyak aspek-aspek hukum yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung .

E-commerce melalui EDI ini sifatnya eksklusif, yaitu terbatas hanya antar perusahaan (business-to-business). Namun sejak awal tahun '90-an, e-commerce lebih banyak menggunakan fasilitas Internet yang sifatnya jauh lebih inklusif dan sangat terbuka.

Model yang digunakan dalam ecommerce adalah model world wide web. Hal ini terutama dikaitkan dengan peluncuran World Wide Web (www) pada tahun 1992 yang merupakan salah satu alat (tool) Internet yang populer untuk membuat, memanipulasi dan memanggil dokumen-dokumen yang terdiri dari audio, video, informasi grafis dan teks.

Bahkan secara de facto Web ini sudah menjadi standar untuk melakukan navigasi, menerbitkan informasi dan mengeksekusi transaksi pada Internet dan Intranet (jaringan komputer intern organisasi/perusahaan). Melalui jaringan Internet inilah, e-commerce menjadi dikenal oleh kalangan yang lebih luas meliputi pelaku bisnis berskala besar sampai pelaku bisnis individual. Demikian pula, jangkauan area pasarnya meliputi seluruh dunia atau setidaknya negara-negara di dunia yang telah mempunyai jaringan Internet tersebut.

Yang diusulkan untuk menjadikan orang Indonesia melakukan transaksi di tempat kita adalah

  1. Pada umumnya masalah yang ditemui bagi calon konsumen di Indonesia adalahn yang berkaitan dengan kepercayaan. Calon konsumen banyak yang susah percaya dengan system penjualan online (misalnya takut tertipu sudah melakukan pembayaran namun tidak ada pengantaran barang). Cara paling mudah untukmencegah hal ini adalah dengan mencantumkan alamat dan nomor telepon di website atau signature email, karena ini menjadi bukti bahwa penjualan ini tidak main-main atau bohongan, sekaligus memberikan kepercayaan pada calon konsumen bahwa penjual “mudah dicari”. Ini sesuai pula dengan masukan salah seorang anggota Milis Dunia Wirausaha yang melihat performance sebuah online shop berdasarkan history penjualan selama ini, misalnya di Ebay dimana konsumen bisa melihat sudah berapa banyak penjualan yang berhasil dilakukan.
  2. Mengadakan program pelatihan internet gratis kepada masyarakat dan memberikan pengenalan kepada mereka tentang e-commerce. Sehingga harapannya setelah mereka mengenal e commerce, selanjutnya mau melakukan transaksi dengan internet.
  3. Perlu adanya info tentang barang yang jelas dan cukup detail karena calon konsumen tidak bisa langsung memegang dan melihat langsung barang yang ingin dibeli. Foto produk adalah hal yang sangat penting, termasuk juga apabila barang yang dijual tersebut multifungsi. Sebaiknya menyediakan berbagai tampilan foto yang memperlihatkan masing-masing fungsinya.
  4. Harga yang kompetitif, konsumen online biasanya akan lebih mudah membandingkan dengan harga-harga jual di took online lainnya maupun took biasa.
  5. Pengiriman yang murah dan cepat biasanya menjadi masukan juga untuk calon konsumen.
  6. Pembayaran, ada beberapa alternative. Akan lebih mudah bagi konsumen apabila ada beberapa pilihan pembayaran misalnya: transfer bank setelah barang diterima, pembayaran didepan atau kartu kredit. Untuk cash on delivery, sebaiknya hal ini dipilih apabila menggunakan jasa kurir pribadi, terutama untuk konsumen baru dimana mereka lebih merasa aman dengan COD. Akan jadi nilai plus apabila sang kurir bisa menerangkan pada konsumen tentang cara pemakaian barang tersebut.
  7. customer service harus tersedia dan siap dihubungi kapan saja. Karena e commerce tergolong baru di Indonesia, jadi jika barang belum diterima, konsumen sering was-as dan terus menerus menghubungi penjual. Maka sangat diperlukan customer service yang dapat dengan cepat menanggapi pertanyaan maupun keluhan.
  8. Pilih tempat web hosting yang reliable dan supportnya mudah dihubungi.
  9. adanya keterangan update pemesanan sampai pengiriman. Misalnya, pemberitahuan setelah form pemesanan diterima, pemberitahuan setelah pembayaran diterima, serta pemberitahuan mengenai waktu pengiriman dan perkiraan tiba ditempat konsumen.
  10. Insentif untuk pengunjung atau konsumen.